Dibaca 10 menit Manfaatnya Seumur Hidup
Diriwayatkan
dari Mu’adz r.a. yang berkisah: Kami bersama Rasulullah saw. di rumah salah
seorang sahabat Anshar, di mana saat itu kami berada di tengah-tengah jemaah.
Lalu ada suara orang memanggil dari luar, “Wahai para penghuni rumah, apakah
kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku?”
Rasulullah
bertanya kepada para jamaah, “Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari
luar itu?”
Mereka
menjawab: “Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Lalu
Rasulullah saw. menjelaskan,
“Itu adalah iblis yang terkutuk, semoga Allah senantiasa melaknatnya.”
“Itu adalah iblis yang terkutuk, semoga Allah senantiasa melaknatnya.”
Kemudian
Umar r.a meminta izin kepada Rasulullah sembari berkata, “Ya Rasulullah, apakah
engkau mengizinkanku untuk membunuhnya?”
Beliau
menjawab, “Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk
mahluk yang tertunda kematiannya sampai batas waktu yang telah diketahui (hari
kiamat)? Akan tetapi sekarang silahkan kalian membukakan pintu untuknya. Sebab
ia diperintah untuk datang ke sini, maka pahamilah apa yang ia ucapkan dan
dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian.”
Ibnu
Abas berkata:
“Kemudian
dibukakan pintu, lalu ia masuk di tengah-tengah kami. Ternyata ia berupa orang
yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Ia berjenggot sebanyak tujuh helai
rambut yang panjangnya seperti rambut kuda. Kedua kelopak matanya terbelah ke
atas (tidak ke samping). Sedangkan kepalanya seperti kepala gajah yang sangat
besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi. Sementara kedua
bibirnya seperti bibir kerbau. Ia datang sambil memberi salam. ‘Assalamu’alaika
ya Muhammad.
Assalamu’alaikum
ya Jamaa’atal muslimin,’ kata iblis.”
Nabi
menjawab, Assalamulillah ya la’iin (keselamatan hanya milik Allah wahai mahluk
yang tekutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apa
keperluanmu tersebut wahai iblis?”
“Wahai
Muhammad, saya datang ke sini bukan karena kemauanku sendiri, tapi karena
terpaksa,” tutur iblis.
“Apa
yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini wahai mahluk tekutuk?” Tanya
Rasulullah.
Iblis
menjawab,”Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan Yang
Mahaagung, di mana utusan itu berkata kepadaku, “Sesungguhnya Allah swt.
Memerintahmu untuk datang kepada Muhammad saw. sementara engkau adalah mahluk
yang rendah dan hina. Engkau harus memberi tahu kepadanya, bagaimana engkau
menggoda dan merekayasa anak-cucu Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu
mereka. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad dengan
jujur. Maka demi kebesaran dan Keagungan Allah, jika engkau menjawabnya dengan
bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh engkau akan Allah jadikan debu yang
bakal dihempas oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu akan merasa senang. ‘Wahai
Muhammad, maka sekarang saya datang kepadamu sebagaimana yang diperintahkan
kepadaku. Maka tanyakanlah apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya
tidak menjawabnya dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas
musibah yang bakal saya terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat
bagku daripada bersenangnya musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku.
Rasulullah
mulai melemparkan pertanyaan kepada iblis, “Jika engkau bisa menjawab dengan
jujur, maka coba ceritakan kepadaku, siapa orang yang paling engkau benci?”
Iblis
menjawab dengan jujur, ”Engkau, wahai Muhammad, adalah orang yang paling aku
benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu.”
“Lalu
siapa lagi yang paling engkau benci?” Tanya Rasulullah.
“Seorang
pemuda yang bertakwa di mana ia mencurahkan dirinya hanya kepada Allah swt.”
Jawab iblis.
“Siapa
lagi?” Tanya Rasulullah.
“Orang
alim yang wara’ (menjaga diri dari syubhat) lagi sabar,” jawab iblis.
“Siapa
lagi?” Tanya Rasulullah.
“Orang
yang senantiasa melanggengkan kesucian dari tiga kotoran (hadast besar, kecil
dan najis) tutur iblis.
“Siapa
lagi?” Tanya Rasulullah.
“Orang
fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kefakirannya
kepada siapa pun dan juga tidak pernah mengeluhkan penderitaan yang
dialaminya,” jawab iblis.
“Lalu
dari mana engkau tahu kalau ia bersabar?” Tanya Rasulullah.
“Wahai
Muhammad, bila ia masih dan pernah mengeluhkan penderitaannya kepada mahluk yang
sama dengannya selama tiga hari, maka Allah tidak akan mencatat perbuatannya
dalam kelompok orang-orang yang bersabar,” jelas iblis.
Lalu
siapa lagi, wahai iblis?” Tanya Rasul.
“Orang
kaya yang bersyukur.” Tutur iblis.
Lalu
apa yang bisa memberi tahu kepadamu bahwa ia bersyukur?” Tanya Rasulullah.
“Bila
saya melihatnya ia mengambil kekayaannya dari apa saja yang dihalalkan, dan
kemudian disalurkan pada tempatnya,” tutur iblis.
“Bagaimana
kondisimu apabila ummatku menjalankan shalat?” Tanya Rasulullah.
“Wahai
Muhammad, saya langsung merasa gelisah, dan gemetar,” jawab iblis.
“Mengapa
wahai mahluk yang terkutuk?” Tanya Rasulullah.
“Sesungguhnya
apabila seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud, maka Allah akan
mengangkat satu derajat (tingkat). Apabila mereka berpuasa, maka saya terikat
sampai mereka berbuka kembali. Apabila mereka menunaikan manasik haji, maka
saya jadi gila. Apabila membaca Al Qur’an, maka saya akan meleleh (mencair)
seperti timah yang dipanaskan dengan api. Apabila bersedekah maka seakan-akan
orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu memotong saya menjadi dua,”
jawab iblis.
“Mengapa
demikian wahai Abu Murrah (julukan iblis)?” Tanya Rasulullah.
“Sebab
dalam sedekah ada empat perkara yang perlu diperhatikan: Dengan besedekah itu,
Allah akan menurunkan keberkahan dalam hartanya, menjadikan ia disenangi di
kalangan mahluk-Nya, dengan sedekah itu pula Allah akan menjadikan suatu
penghalang antara neraka dengannya dan akan menghindarkan segala bencana dan
penyakit,” tutur iblis menjelaskan.
“Lalu
bagaimana pendapatmu tentang Abu bakar?” Tanya Rasulullah.
“Ia
sewaktu jahiliyyah saja tidak pernah taat kepadaku, apalagi waktu dalam Islam,”
tutur iblis.
“Bagaimana
dengan Umar bin Khatthab?” Tanya Rasulullah.
“Demi
Allah, setiap kali saya bertemu dengannya, mesti akan lari darinya,” jawab
iblis.
“Bagaimana
dengan Utsman?”Tanya Rasulullah.
“Saya
merasa malu terhadap orang yang para malaikat saja malu kepadanya,” jawab
iblis.
“Lalu
bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib?”Tanya Rasulullah.
“Andaikan
saya bisa selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya, ia meninggalkanku
dan saya pun meninggalkannya. Akan tetapi ia tidak pernah melakukan hal itu
sama sekali.” Tutur iblis.
“Segala
puji bagi Allah Yang telah menjadikan ummatku bahagia dan mencelakakanmu sampai
pada waktu yang ditentukan,” tutur Rasulullah.
“Tidak
dan tidak mungkin, dimana ummatmu bisa bahagia, sementara saya senantiasa hidup
dan tidak akan mati sampai pada waktu yang telah ditntukan.Lalu bagaimana
engkau bisa bahagia terhadap ummatmu, sementara saya bisa masuk kepada mereka
melalui aliran darah dan daging, sedangkan mereka tidak bisa melihatku. Demi
Tuhan Yang telah menciptakanku dan telah menunda kematianku sampai pada hari
mereka dibangkitkan kembali (Kiamat), sungguh saya akan menyesatkan mereka
seluruhnya, baik yang bodoh maupun yang alim, yang awam maupun yang bisa
membaca al Qur’an, yang nakal maupun yang rajin beribadah, kecuali hamba-hamba
Allah yang mukhlas (sangat-sangat ikhlas),” tutur iblis.
“Siapa
menurut engkau hamba-hamba Allah yang mukhlas itu?” Tanya Rasulullah.
Ibis
menjawab dengan panjang lebar, “
“Apakah
engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa orang yang masih suka dirham dan dinar
(harta) adalah belum bisa murni karena Allah swt. Apabila saya melihat
seseorang sudah tidak menyukai dirham dan dinar, serta tidak suka dipuji, maka
saya tahu bahwa ia adalah seorang yang mukhlis karena Allah, lalu saya
tinggalkan. Sesungguhnya seorang hamba selagi masih suka harta dan pujian,
sedangkan hatinya selalu bergantung pada kesenangan-kesenangan duniawi, maka ia
akan lebih taat kepadaku dari pada orang-orang yang telah saya jelaskan
kepadamu.
Apakah
engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta harta itu dosa yang paling besar?
Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta kedudukan adalah termasuk
dosa yang paling besar? Apakah engkau tidak tahu, saya memiliki tujuh puluh
ribu anak, sedangkan setiap anak dari jumlah tersebut memiliki tujuh puluh ribu
setan. Di antara mereka ada yang sudah saya tugaskan untuk menggoda ulama, ada
yang saya tugaskan untuk menggoda para pemuda, ada yang saya tugaskan menggoda
orang-orang yang sudah tua. Anak-anak muda bagi kami tidak ada masalah,
sedangkan-anak-anak kecil lebih mudah kami permainkan sekehendak saya.
Di
antara mereka ada juga yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang tekun
beribadah, dan ada juga yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang
zuhud. Mereka keluar masuk dari kondisi ke kondisi lain, dari satu pintu ke
pintu lain, sehingga mereka berhasil menggunakan cara apa pun. Saya ambil dari
mereka nilai keikhlasan dalam hatinya, sehingga mereka beribadah kepada Allah
dengan tidak ikhlas, sementara mereka tidak merasakan hal itu.
Apakah
engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa Barshih seorang rahib (pendeta) yang
berbuat ikhlas karena Allah selama tujuh puluh tahun, sehingga dengan do’anya
ia sanggup menyelamatkan orang-orang yang sakit. Akan tetapi saya tidak
berhenti menggodanya sehingga ia sempat berbuat zina dengan seorang perempuan,
membunuh orang, dan mati dalam kondisi kafir? Inilah yang disebutkan oleh Allah
dalam kitab-Nya dengan firman-Nya:
“(Bujukan
orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata
kepada manusia: Kafirlah kamu maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata,
“Sesungguhnya
aku cuci tangan darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan
semesta alam.” (Q.S. al Hasyr: 16).
Apakah
engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu dari saya, saya adalah
orang yang berbohong pertama kali. Orang yang berbohong adalah temanku.
Barangsiapa bersumpah atas Nama Allah dengan berbohong maka ia adalah
kekasihku.
Apakah
engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa saya pernah bersumpah kepada Adam dan
Hawa dengan atas Nama Allah, ‘Bahwa saya akan memberi nasihat kepada kalian
berdua.’ Maka sumpah bohong itu menyenangkan hatiku. Sedangkan menggunjing dan
mengadu domba adalah buah santapan dan kesukaanku. Kesaksian dusta adalah
penyejuk mataku dan kesenanganku.
Barang
siapa bersumpah dengan menceraikan istrinya (talak) maka hampir tidak akan bisa
selamat, sekalipun hanya sekali. Andaikan itu benar, yang karenanya orang
membiasakan lidahnya mengucapkan kata-kata tersebut, istrinya akan menjadi
haram. Kemudian dari pasangan tersebut dihasilkan keturunan sampai hari Kiamat
nanti yang semuanya hasil dari anak-anak zina. Sehingga seluruhnya masuk neraka
hanya gara-gara satu ucapan.
Wahai
Muhammad, sesungguhnya di antara ummatmu ada orang yang menunda-nunda shalatnya
dari waktu ke waktu. Ketika ia hendak menjalankan shalat, maka saya selalu
berada padanya dan mengganggu sembari berkata kepadanya, ‘masih ada waktu,
teruskan engkau sibuk dengan urusan dan pekerjaan yang engkau lakukan.’
Sehingga ia menunda shalatnya, dan kemudian shalat di luar waktunya. Akibatnya
dengan shalat yang dikerjakan di luar waktunya itu ia akan dipukul di
kepalanya. Kalau saya merasa kalah, maka saya mengirim kepadanya salah seorang
dari setan-setan manusia yang akan menyibukkan waktunya. Kalau dengan usaha itu
saya masih kalah, maka saya tinggalkan sampai ia menjalankan shalat. Ketika
dalam shalatnya saya berkata kepadanya, ‘ Lihatlah ke kanan dan ke kiri!’
Akhirnya ia melihat. Maka pada saat itu wajahnya saya usap dengan tangan saya,
kemudian saya menghadap di depan matanya sembari berkata, ‘Engkau telah
melakukan apa yang tidak akan menjadi baik selamanya.’
Wahai
Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang banyak menoleh dalam shalatnya, Allah
akan memukul kepalanya dengan shalat tersebut. Kalau dalam shalat ia sanggup
mengalahkan saya, sementara ia shalat sendirian, maka saya perintahkan untuk
tergesa-gesa. Maka ia mengerjakan shalat seperti ayam yang mencocok benih-benih
untuk dimakan dan segera meninggalkannya. Kalau ia sanggup mengalahkan saya,
dan shalat berjamaah, maka saya kalungkan rantai di lehernya. Ketika ia sedang
ruku’ saya tarik kepalanya ke atas sebelum imam bangun dari ruku’ dan saya
turunkan sebelum imam turun.
Wahai
Muhammad, engkau tahu bahwa orang yang melakukan shalat seperti itu, maka batal
shalatnya, dan di hari Kiamat nanti Allah akan menyalin kepalanya dengan kepala
keledai. Kalau dengan cara tersebut saya masih kalah, maka saya perintahkan
meremas-remas jari jemarinya sehingga bersuara, sedangkan ia sedang shalat,
karenanya ia termasuk orang-orang yang bertasbih kepadaku padahal ia sedang
shalat. Kalau dengan cara tersebut masih juga tidak mempan, maka saya tiup
hidungnya sehingga ia menguap, sementara ia sedang shalat. Kalau ia tidak
menutup mulutnya dengan tangannya maka setan masuk ke dalam perutnya, sehingga
ia semakin rakus dengan dunia dan berbagai perangkapnya. Ia akan selalu
mendengar dan taat kepadaku.
Bagaimana
ummatmu bisa bahagia wahai Muhammad, sementara saya memerintah orang-orang
miskin untuk meninggalkan shalat, dan saya berkata kepadanya, ‘Shalat bukanlah
kewajiban kalian, shalat hanya kewajiban orang-orang yang diberi nikmat oleh
Allah.’ Saya pun berkata kepada orang yang sakit, ‘Tinggalkan shalat, karena
shalat bukanlah kewajibanmu. Shalat hanyalah kewajiban orang-orang yang diberi
nikmat kesehatan. Sebab Allah sudah berfirman, ‘…dan tidak apa-apa bagi orang
yang sedang sakit…,’ (Q.S an Nur:61). Kalau engkau sudah sembuh, baru melakukan
shalat.’ Akhirnya ia mati dalam kondisi kafir. Apabila ia mati dengan
meninggalkan shalat ketika sedang sakit, maka ia akan bertemu Allah dengan
dimurkai.
Wahai
Muhammad, jika saya menyimpang dan berdusta kepadamu, maka hendaknya engkau
memohon kepada Allah agar saya dijadikan debu yang lembut. Wahai Muhammad,
apakah engkau masih juga gembira terhadap ummatmu, sementara saya bisa
memurtadkan seperenam dari ummatmu untuk keluar dari Islam?”
Kemudian
Rasulullah meneruskan pertanyaannya,
“Wahai
mahluk yang terkutuk, siapa teman dudukmu?”
“Orang
yang suka makan riba,” jawab iblis.
“lalu
siapa teman dekatmu?” Tanya Rasulullah kembali.
“
Orang yang berzina,” jawabnya.
“Siapa
teman tidurmu?” Tanya Rasulullah.
“Orang
yang mabuk.” Jawabnya.
“Siapa
tamumu?” Tanya Rasulullah.
“Pencuri,”
jawabnya.
“Siapa
utusanmu?” Tanya Rasulullah.
“Tukang
sihir,” jawabnya.
“Apa
yang menyenangkan pandangan matamu?” Tanya Rasulullah.
“Orang
yang bersumpah dengan talak,” jawab iblis.
“Siapa
kekasihmu?” Tanya Rasulullah.
“Orang
yang meninggalkan shalat jum’at,” jawabnya.
“Wahai
mahluk yang terkutuk, apa yang mengakibatkan punggungmu patah?” Tanya
Rasulullah.
“Suara
ringkik kuda untuk berperang membela agama Allah,” jawabnya.
“Apa
yang menjadikan tubuhmu meleleh?” Tanya Rasulullah.
“Tobatnya
orang yang bertobat,” jawabnya.
“Apa
yang membuat hatimu panas?” Tanya Rasulullah.
“Banyaknya
istigfar kepada Allah, baik di malam atau siang hari,” jawabnya.
“Apa
yang membuatmu malu dan hina?” Tanya Rasulullah.
“Sedekah
secara rahasia,” jawabnya.
“Apa
yang menjadikan matamu buta?” Tanya Rasulullah.
“Shalat
di waktu sahur,” jawabnya.
“Apa
yang dapat mengendalikan kepalamu?” Tanya Rasulullah.
“Memperbanyak
shalat berjamaah,” tuturnya.
“Siapa
orang yang paling bisa membahagiakanmu?” Tanya Rasulullah.
“Orang
yang sengaja meninggalkan shalat,” tuturnya.
“Siapa
orang yang paling celaka menurut engkau?” Tanya Rasulullah.
“Orang-orang
yang kikir,” jawabnya.
“Apa
yang menyita pekerjaanmu?” Tanya Rasulullah.
“Majelis
orang-orang alim,” jawabnya.
“Bagaimana
cara engkau makan?” Tanya Rasulullah.
“Dengan
tangan kiriku dan jari jemariku,” jawabnya.
“Di
mana engkau mencari tempat berteduh untuk anak-anakmu di waktu panas?” Tanya
Rasulullah.
“Di
bawah kuku manusia,” jawab iblis.
“Berapa
kebutuhan yang pernah engkau minta kepada Tuhanmu? Tanya Rasulullah.
“Sepuluh
macam,” jawabnya.
“Apa
saja itu wahai mahluk terkutuk?” Tanya Rasulullah.
Iblis
pun menjawabnya, “Saya meminta-Nya agar bisa berserikat dengan anak cucu Adam
dalam harta kekayaan dan anak-anak mereka. Akhirnya Tuhan mengizinkanku
berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah: “Dan
berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka.
Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan
belaka.” (Q.S. Al Isra’: 64).
Setiap
harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka saya ikut memakannya. Saya juga
ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram, segala harta yang tidak
dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Setiap orang
yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika besetubuh dengan
istrinya, maka setan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang
mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan
maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya.
Itulah maksud firmanAllah:
“Dan
kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki,”
(Q.S. al Isra’: 64).
Saya
memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya
memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku. Saya memohon
agar saya punya kitab, maka syair adalah kitabku. Saya memohon agar saya punya
adzan, maka terompet adalah panggilan adzanku. Saya memohon kepada-Nya agar
saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku. Saya
memohon agar saya memiliki teman-teman yang menolongku, maka kelompok al
Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan saya memohon agar saya
mendapatkan teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfakkan harta
kekayaannya untuk kemaksiatan adalah teman dekatku. Ia kemudian membaca firman
Allah, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan
setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Q.S.al Isra’: 27).”
Rasululah
saw. berkata kepadanya, “Andaikan tidak setiap apa yang engkau ucapkan itu
didukung oleh ayat-ayat dari Kitab Allah tentu aku tidak akan membenarkanmu.”
Lalu
Iblis berkata lagi, Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa
melihat anak-cucu Adam, sementara mereka tidak bisa melihatku. Kemudian Allah
menjadikan aku bisa mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku bisa
berjalan ke mana pun sesuai kemauan diriku dan dengan cara bagaimana pun. Kalau
saya mau dalam sesaat pun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku, ‘Engkau bisa
melakukan apa saja yang kau minta.’ Akhirnya saya merasa senang dan bangga
sampai hari Kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak dari pada
orang yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai
hari Kiamat.
Saya
memiliki anak yang saya beri nama Aramah. Ia akan kencing di telinga seorang
hamba ketika ia tidur meninggalkan shalat Atamah (Isya’).
Andaikan
tidak karenanya tentu manusia tidak akan tidur lebih dahulu sebelum menjalankan
shalat.
Saya
juga punya anak yang saya beri nama Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba
melakukan ketaatan (ibadah) dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak
saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamerkan di tengah-tengah
manusia. Sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh
sembilan dari seratus pahalanya. Sehingga yang tersisa hanya satu pahala. Sebab
setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala.
Saya
punya anak lagi yang bernama Kuhyal, dimana ia bertugas mengusapi celak mata
semua orang yang sedang berada di majlis pengajian dan ketika khatib sedang
berkhutbah. Sehingga mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak bisa
mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Mereka yang tetidur tidak akan
ditulis pahala sedikit pun untuk selamanya.
Setiap
kali ada perempuan yang keluar mesti ada setan yang duduk di pinggulnya, ada
pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Dimana mereka akan
menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua setan itu kemudian berkata
kepadanya, “Keluarkan tanganmu.’ Akhirnya ia mengeluarkantangannya, kemudian
kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya.
“Wahai
Muhammad, sebenarnya saya tidak bisa menyesatkan sedikit pun. Akan tetapi saya
hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikan saya memiliki hak dan kemampuan
untuk menyesatkan, tentu saya tidak membiarkan segelintir manusia pun di muka bumi
ini yang masih sempat mengucapkan dua kalimat syahadat. ‘Tidak ada Tuhan selain
Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.’ Tidak akan ada lagi orang yang shalat
dan berpuasa. Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak untuk memberikan
hidayah sedikit pun kepada siapa saja. Akan tetapi engkau adalah seorang utusan
dan penyampai amanat dari Tuhan. Andaikan engkau memiliki hak dan kemampuan
untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang
kafir pun di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai argumentasi (hujjah) Tuhan
terhadap mahluk-Nya. Sementara saya hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang
sebelumnya sudah dicap oleh Allah menjadi orang celaka. Orang yang bahagia dan
beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut
ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh
Allah sejak dalam perut ibunya.”
Kemudian
Rasulullah membacakan firman Allah:
“jikalau
Tuhammu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka
senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh
Tuhanmu.” (Q.S. Hud: 118).
Kemudian
beliau melanjutkan dengan firman Allah yang lain:
“Dan
adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (Q.S. Al Ahzab:
38).
Lantas
Rasulullah saw. berkata lagi kepada iblis, “Wahai Abu Murrah (iblis), apakah
engkau masih mungkin bertobat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan
menjaminmu masuk surga?”
Ia
menjawab, “Wahai Rasulullah, ketentuan telah memutuskan dan Qalam pun telah
kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari Kiamat nanti. Maka
Mahasuci Tuhan Yang telah menjadikanmu tuan para Nabi dan khatib para penduduk
surga. Dia telah memilih dan mengkhususkan dirimu. Sementara Dia telah
menjadikan saya sebagai tuan orang-orang celaka dan khatib para penduduk
neraka. Saya adalah mahluk yang celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa
yang saya beritahukan kepadamu, dan saya mengatakan sejujurnya.”
Segala
puji bagi Allah Tuhan semesta alam, awal dan akhir, dhahir dan bathin. Dan
semoga shalawat dan salam sejahtera tetap diberikan kepada seorang Nabi yang
Ummi dan kepada para sahabatnya serta para Utusan dan para Nabi.***
**
Moga Bermanfaat**
wokwokwokwokwokw lagune ganti......
BalasHapusra ono lagune malah....
BalasHapus